|

KPU Kalbar Soroti Dominasi Pemilih Muda Jelang Pemilu 2029, Pendidikan Politik Jadi Tantangan Besar

 

Rapat Pleno Rekapitulasi Pemuktahiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) KPU Kalbar. SUARASINTANG/SK
Pontianak (Suara Sintang) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Barat menyoroti perubahan komposisi pemilih yang semakin didominasi generasi muda. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar sekaligus pekerjaan rumah bersama bagi penyelenggara pemilu, pemerintah, dan partai politik dalam memperkuat pendidikan politik menjelang Pemilu 2029.

Berdasarkan data KPU Kalbar, tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada Serentak sebelumnya masih menjadi perhatian. Dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 3.956.969 pemilih, tercatat sebanyak 1.262.018 orang tidak menggunakan hak pilihnya atau masuk kategori golongan putih (golput), dengan persentase mencapai 32,04 persen.

Ketua KPU Kalimantan Barat, MS Budi, mengatakan tren pemilih di Kalbar saat ini menunjukkan dominasi kelompok usia muda, terutama Generasi X, milenial, dan Generasi Z. Bahkan, dalam beberapa tahun mendatang, pemilih dari Generasi Alpha juga akan mulai masuk dalam daftar pemilih.

“Kalau kita bicara pertumbuhan data, kita bisa saksikan sendiri bahwa generasi pre-boomer dan baby boomer sudah tidak ada. Tinggal Generasi X, milenial, dan Gen Z. Itu menunjukkan sesungguhnya pertumbuhan data pemilih muda yang masuk dalam kategori milenial dan Gen Z, kemudian nanti akan masuk lagi Generasi Alpha,” ujar MS Budi.

Menurutnya, peningkatan jumlah pemilih muda tersebut harus diimbangi dengan penguatan literasi politik agar masyarakat, khususnya pemilih muda, tidak hanya hadir dalam pesta demokrasi, tetapi juga mampu memahami proses politik secara kritis dan bertanggung jawab.

MS Budi menjelaskan, KPU terus melakukan pemutakhiran data pemilih secara berkala sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Proses tersebut dilakukan setiap tiga bulan untuk memastikan data pemilih tetap akurat dan mutakhir.

Namun, kata dia, tantangan terbesar bukan hanya terkait jumlah pemilih, melainkan bagaimana mempersiapkan generasi muda menjadi pemilih yang cerdas dalam menentukan pilihan politik.

“Yang penting adalah pertumbuhan pemilih muda yang luar biasa menjelang Pemilu 2029, termasuk pemilih muda yang sudah tidak lagi masuk kategori pemilih pemula. Ini menggambarkan bahwa proses sosialisasi dan pendidikan pemilih yang harus dilakukan jajaran KPU hingga tingkat bawah, termasuk fungsi pemerintah dan partai politik dalam pendidikan politik, harus jauh lebih masif dan terarah,” tegasnya.

Ia menilai pendidikan politik yang berkelanjutan menjadi kunci agar meningkatnya jumlah pemilih muda dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas demokrasi.

Menurut MS Budi, pemilih muda perlu dibekali pemahaman yang cukup agar mampu menyaring informasi, menghindari pengaruh politik yang tidak sehat, serta menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional.

“Kita ingin menghadirkan kualitas pemilih yang jauh lebih baik, yang tentunya harus beriringan dengan kualitas partai politik dan kualitas penyelenggara pemilu di masa depan,” pungkasnya. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play
Play