![]() |
| Perjuangan Satuan Tugas (Satgas) dan relawan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi tidak hanya membutuhkan peralatan pemadaman. SUARASINTANG/SK |
Melihat kondisi tersebut, Ketua Umum KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi, Dea Kusumah Wardhana, mengusulkan agar keberadaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan makanan para Satgas dan relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Menurut Dea, personel yang berada di garis depan tidak seharusnya berjuang hanya dengan mengandalkan bekal seadanya. Asupan makanan yang cukup diperlukan agar mereka tetap memiliki tenaga dan kondisi fisik yang prima selama menjalankan tugas pemadaman.
“Mereka berjuang dari pagi, siang, bahkan sampai malam. Api yang mereka hadapi bukan perkara kecil. Di tengah panas, asap dan keterbatasan air, mereka tetap bertahan. Jangan sampai urusan makan mereka justru terabaikan,” ujar Dea.
Ia berharap dapur MBG yang tersedia di Kabupaten Melawi dapat dilibatkan ketika daerah menghadapi situasi darurat, khususnya dalam membantu menyediakan makanan bagi personel Satgas, relawan, maupun masyarakat yang terdampak dan terlibat langsung dalam penanganan karhutla.
Dea menegaskan, usulan tersebut bukan berarti mengambil alih program MBG yang sudah berjalan. Menurutnya, dapur MBG dapat menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan dan kolaborasi lintas pihak ketika daerah menghadapi kondisi darurat akibat karhutla dan kabut asap.
“Kalau dapur MBG bisa membantu menyiapkan makanan untuk para pejuang karhutla, tentu ini akan sangat berarti. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya butuh dukungan agar bisa terus bertahan di lapangan,” katanya.
Di sisi lain, Dea menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan perhatian dan bantuan kepada para relawan serta Satgas karhutla di Kabupaten Melawi.
Ia menyebut dukungan dari masyarakat, pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, organisasi sosial, dunia usaha, komunitas hingga para donatur menjadi bagian penting dalam perjuangan menghadapi karhutla.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Kepada masyarakat, pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, organisasi sosial, dunia usaha, komunitas, donatur dan seluruh pihak yang telah memberikan makanan, minuman, masker, perlengkapan maupun dukungan lainnya kepada para relawan,” ungkap Dea.
Menurutnya, setiap bentuk bantuan, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi para relawan yang sedang berada di tengah kepungan api dan asap.
“Mungkin bagi kita satu kotak nasi terlihat sederhana. Tetapi bagi relawan yang sudah berjam-jam memadamkan api, makanan itu adalah tenaga untuk kembali berdiri dan melanjutkan perjuangan. Kepedulian sekecil apa pun sangat berarti,” tuturnya.
Dea menilai penanganan karhutla membutuhkan semangat gotong royong dari seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, organisasi relawan, dunia usaha hingga masyarakat harus bergerak bersama untuk menghadapi ancaman karhutla.
Sebab, menurutnya, penanganan karhutla bukan hanya persoalan ketersediaan air, selang, mesin pompa maupun peralatan pemadam. Kondisi dan kebutuhan para personel yang berada di garis depan juga harus menjadi perhatian.
“Mari kita jangan hanya melihat mereka ketika api sudah besar. Perhatikan juga kebutuhan mereka ketika sedang berjuang. Mereka adalah saudara kita yang sedang berada di garis depan menghadapi karhutla,” tegasnya.
KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi berharap semangat gotong royong dan kepedulian terhadap para pejuang karhutla terus dipertahankan hingga kondisi benar-benar aman dan ancaman kebakaran dapat dikendalikan.
“Karena di balik asap yang mengepul dan api yang membara, ada orang-orang yang mempertaruhkan tenaga, waktu dan keselamatan mereka demi menjaga masyarakat serta lingkungan Kabupaten Melawi,” tutup bapak dua anak tersebut dengan ramah. [SK]
.jpeg)