|

Landak Tetapkan Tanggap Darurat Karhutla 14 Hari, Karolin: Situasi Sudah Darurat Asap

 

Bupati Landak Karolin Margret Natasa saat di wawancara awak media. SUARASINTANG/SK
Landak (Suara Sintang) – Pemerintah Kabupaten Landak resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama 14 hari. Kebijakan ini diambil setelah kabut asap semakin pekat dan kualitas udara di sejumlah wilayah memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Penetapan status tanggap darurat diputuskan dalam rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Landak, Selasa (1/9/2026).

Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengatakan, keputusan tersebut merupakan langkah cepat pemerintah daerah untuk menghadapi situasi Karhutla yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan arahan pemerintah di tingkat provinsi.

Menurut Karolin, kondisi kemarau panjang yang masih berpotensi berlangsung berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ditambah munculnya titik api di sejumlah wilayah, menjadi pertimbangan utama penetapan status tersebut.

“Maka kami menetapkan status tanggap darurat untuk 14 hari ke depan dan nanti akan dievaluasi setiap harinya, apakah bisa diperpendek, bisa juga diperpanjang,” ujar Karolin seusai rapat koordinasi.

Karolin meminta seluruh unsur pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat mengerahkan kemampuan untuk menangani Karhutla. Ia juga menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, kondisi asap yang menyelimuti Landak sudah masuk tahap yang mengancam kesehatan masyarakat, terutama akibat tingginya konsentrasi partikel halus di udara.

“Saya minta untuk distop, apapun alasannya karena situasi hari ini sudah sampai pada situasi darurat asap, di mana kita semua melihat dan merasakan bagaimana asap sudah mengepung kita,” tegasnya.

Pemkab Landak telah berkoordinasi dengan Kepolisian dan Kejaksaan untuk melakukan penindakan terhadap pihak yang terbukti sengaja melakukan pembakaran lahan.

Karolin menegaskan, penanganan Karhutla bukan semata-mata persoalan lingkungan. Dampaknya telah menyentuh aspek keselamatan dan kesehatan masyarakat secara luas.

“Jadi ini tidak main-main ya, situasinya ini sudah sampai pada taraf asap ini membahayakan kita, membahayakan kesehatan kita,” katanya.

Selain mengintensifkan pemadaman, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang dapat meluas hingga permukiman.

Kondisi lahan yang kering akibat kemarau panjang membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi menjadi sumber api.

Karolin juga meminta warga berhati-hati ketika membakar sampah serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Pemkab Landak turut mengimbau masyarakat mempertimbangkan penundaan kegiatan yang melibatkan banyak orang di ruang terbuka selama kondisi asap masih membahayakan.

Di tengah upaya penanganan Karhutla, Pemkab Landak juga menghadapi keterbatasan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

Meski demikian, Karolin memastikan anggaran yang tersedia akan dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan petugas yang berada di lapangan.

“Kita memang ada dana tidak terduga tapi jumlahnya juga sangat terbatas. Untuk sementara, kita optimalkan itu dengan anggaran yang terbatas ini, kita support para petugas kita yang berada di lapangan,” jelasnya.

Dukungan anggaran tersebut antara lain diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan transportasi petugas yang terlibat dalam penanganan Karhutla.

Selain menghadapi Karhutla dan kabut asap, masyarakat Landak mulai merasakan dampak lain dari kemarau panjang, yakni berkurangnya ketersediaan air bersih.

Karolin mengungkapkan debit Sungai Landak mengalami penyusutan drastis. Kondisi ini turut menyulitkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Landak akan mengerahkan dua unit armada tangki air untuk mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah prioritas yang terdampak kekeringan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mengurangi dampak kemarau panjang yang semakin meningkatkan risiko Karhutla.

Karolin kembali mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Menurutnya, penanganan bencana asap membutuhkan kesadaran dan kerja sama semua pihak agar kondisi tidak semakin memburuk.

“Jangan sampai karena kelalaian kita, kebakaran semakin meluas dan dampaknya semakin besar bagi masyarakat,” pungkasnya. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play
Play