Melawi (Suara Sintang) – Kondisi Jembatan Apung Sungai Bakah di Desa Sungai Bakah, Kecamatan Pinoh Selatan, Kabupaten Melawi, kembali menuai sorotan. Jembatan kayu yang menjadi akses utama penghubung sejumlah desa itu mengalami kerusakan cukup parah dan dinilai membahayakan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintasinya..jpeg)
Kondisi jembatan Apung desa Bakah yang perlu mendapatkan perhatian serius pemerintah.SUARASINTANG/SK
Kekhawatiran warga semakin meningkat setelah sebuah kendaraan dilaporkan mengalami kecelakaan saat melintasi jembatan tersebut pada Minggu malam (28/6/2026). Peristiwa itu kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya pembangunan jembatan permanen yang selama bertahun-tahun dinantikan.
Salah seorang warga, Mario Saparus, mengatakan kondisi jembatan saat ini sudah jauh dari kata layak. Sejumlah papan kayu telah lapuk, berlubang, bahkan struktur jembatan di beberapa titik mulai mengalami kerusakan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
"Sudah beberapa kali pemerintah berjanji akan membangun jembatan ini. Bahkan sampai sekarang satu batang besi pun belum terlihat. Abutment yang dijanjikan juga belum ada," ujar Mario kepada Suara Kalbar, Senin (29/6/2026).
Menurut Mario, Jembatan Sungai Bakah merupakan infrastruktur vital yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Pinoh Selatan, di antaranya Desa Sungai Bakah, Desa Nyanggai, Desa Bina Jaya, hingga Desa Kahiya. Jalur tersebut setiap hari digunakan masyarakat untuk bekerja, bersekolah, mengangkut hasil pertanian, hingga memenuhi berbagai kebutuhan ekonomi.
Ia menjelaskan, jembatan yang ada saat ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan telah digunakan selama bertahun-tahun. Karena kondisi yang terus menurun, warga berkali-kali mengusulkan pembangunan jembatan permanen kepada pemerintah."Jembatan ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Sudah lama kami berharap pemerintah membangun jembatan yang lebih layak karena ini menjadi akses utama masyarakat," ungkapnya.
Mario juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pemerintah telah meminta pemerintah desa mengurus proses pembebasan lahan sebagai bagian dari rencana pembangunan jembatan permanen. Namun hingga kini, proyek tersebut belum menunjukkan perkembangan yang nyata.
"Informasinya pihak desa sudah diminta mengurus pembebasan lahan. Tetapi sampai sekarang pembangunan juga belum dimulai," katanya.
Bagi warga, kecelakaan yang kembali terjadi menjadi alarm bahwa kondisi jembatan tidak lagi bisa diabaikan. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret sebelum muncul korban yang lebih besar.
Selama ini, masyarakat tetap terpaksa menggunakan jembatan tersebut karena tidak memiliki akses alternatif menuju desa-desa di sekitarnya. Kondisi itu membuat warga terus dihantui rasa khawatir setiap kali melintas.
"Kami khawatir jika tidak segera diperbaiki atau dibangun jembatan permanen, kejadian serupa akan kembali terulang," ujar Mario.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut perlindungan terhadap keselamatan masyarakat serta kelancaran aktivitas ekonomi di kawasan pedesaan.
"Ketika sebuah jembatan yang menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga terus dibiarkan rusak hingga memakan korban, maka evaluasi terhadap prioritas pembangunan menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari," tegasnya.
Warga mengaku memahami bahwa pembangunan infrastruktur memerlukan proses perencanaan dan dukungan anggaran. Namun, mereka berharap adanya kepastian setelah bertahun-tahun mendengar rencana pembangunan tanpa realisasi yang jelas.
Masyarakat Desa Sungai Bakah bersama warga desa-desa sekitar kini tidak lagi sekadar menunggu janji. Mereka berharap pemerintah segera menghadirkan langkah nyata melalui pembangunan jembatan permanen yang aman, kokoh, dan mampu menjamin kelancaran mobilitas masyarakat.
Sebab, bagi warga, Jembatan Sungai Bakah bukan sekadar sarana penyeberangan, melainkan urat nadi kehidupan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai kebutuhan masyarakat setiap hari. Kepastian pembangunan dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar keselamatan warga tidak terus dipertaruhkan setiap kali melintasi jembatan tersebut.[SK]