|

SOSEK MALINDO ke-39 Resmi Dibuka, Kalbar–Sarawak Perkuat Kerja Sama Perbatasan dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

 

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, secara resmi membuka Sidang ke-39 Kelompok Kerja Bersama/Joint Working Group (KK/JKK) Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (SOSEK MALINDO) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Peringkat Negeri Sarawak Tahun 2026 di Hotel Novotel Pontianak, Rabu (29/7/2026). SUARASINTANG/SK
Pontianak (Suara Sintang) – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, secara resmi membuka Sidang ke-39 Kelompok Kerja Bersama/Joint Working Group (KK/JKK) Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (SOSEK MALINDO) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Peringkat Negeri Sarawak Tahun 2026 di Hotel Novotel Pontianak, Rabu (29/7/2026).

Forum SOSEK MALINDO merupakan wadah kerja sama strategis antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia, khususnya Kalimantan Barat dan Negeri Sarawak, dalam membahas berbagai isu lintas batas yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, pembangunan infrastruktur perbatasan hingga persoalan kemasyarakatan.

Pembukaan sidang turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat sekaligus Ketua KK SOSEK MALINDO Kalbar, dr. Harisson, M.Kes, perwakilan JKK SOSEK MALINDO Negeri Sarawak yang dipimpin Ketua Klaster II Datu Ir. Ts. Awang Mohammad Fadillah Bin Awang Redzuan, unsur Forkopimda Kalbar, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Kuching, Konsul Malaysia di Pontianak, serta ratusan delegasi dari kedua negara.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Kalbar menegaskan bahwa SOSEK MALINDO tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan mencakup seluruh aspek yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan.

“Yang dibahas dalam SOSEK MALINDO ini adalah berbagai bentuk kerja sama sosial, ekonomi, budaya, hingga persoalan masyarakat di kawasan perbatasan. Intinya bagaimana hubungan antara Kalbar dan Sarawak semakin erat dan memberi manfaat bagi masyarakat kedua wilayah,” ujar Krisantus.

Menurutnya, masyarakat Kalimantan Barat dan Sarawak memiliki kedekatan historis, budaya, dan hubungan kekeluargaan yang telah terjalin sejak lama. Karena itu, kerja sama yang telah berlangsung selama puluhan tahun perlu terus diperkuat demi mendukung kemajuan bersama.

“Kita hanya dipisahkan oleh patok batas negara, tanahnya satu, budayanya juga relatif sama. Momentum seperti ini harus terus dimanfaatkan agar hubungan kedua daerah semakin dekat dan semakin kuat,” katanya.

Krisantus juga menyoroti semakin meningkatnya mobilitas masyarakat antara Kalbar dan Sarawak, terutama setelah kembali dibukanya penerbangan langsung Pontianak–Kuching. Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi penguatan sektor ekonomi, perdagangan, dan pariwisata kedua wilayah.

“Setiap akhir pekan hotel-hotel di Pontianak banyak dipenuhi warga Malaysia. Ini menunjukkan hubungan masyarakat kita semakin erat. Tinggal bagaimana pemerintah memperkuat kerja sama agar manfaat ekonominya semakin besar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengembangan kawasan perbatasan akan semakin terbuka dengan beroperasinya sejumlah Pos Lintas Batas Negara (PLBN), termasuk PLBN Temajuk yang diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di wilayah perbatasan.

“Kita berharap dengan diresmikannya PLBN Temajuk nanti, kawasan itu bisa berkembang lebih cepat. Jagoi Babang dari sisi Indonesia juga sudah selesai, tinggal penyelesaian dari pihak Malaysia,” ujarnya.

Selain isu ekonomi, Wagub juga menekankan pentingnya penyelesaian berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat perbatasan, termasuk persoalan perkawinan campuran antara warga Indonesia dan Malaysia yang berkaitan dengan administrasi kependudukan dan kewarganegaraan.

Sementara itu, Sekda Kalbar dr. Harisson menyampaikan bahwa sidang tahun ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan kerja sama yang telah terjalin erat antara Kalimantan Barat dan Negeri Sarawak.

Ia mengungkapkan, Delegasi Negeri Sarawak yang hadir berjumlah 106 orang, sedangkan Delegasi Kalimantan Barat mencapai 151 orang yang terdiri dari tim teknis, tenaga ahli perangkat daerah, instansi vertikal, perwakilan kementerian, hingga Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

“Kehadiran seluruh delegasi menunjukkan komitmen yang sangat kuat dari kedua belah pihak untuk terus mempererat persahabatan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan, sekaligus mencari solusi bersama terhadap berbagai isu strategis,” kata Harisson.

Ia berharap seluruh pembahasan berlangsung secara terbuka, konstruktif, dan menghasilkan keputusan yang dapat segera diimplementasikan demi kepentingan masyarakat di wilayah perbatasan.

Selain agenda persidangan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga memperkenalkan berbagai potensi daerah kepada delegasi Negeri Sarawak melalui kegiatan wisata dan budaya, seperti susur Sungai Kapuas, kunjungan ke Tugu Khatulistiwa, Rumah Caping Pontianak, hingga pertunjukan seni budaya khas Kalbar.

Di sisi lain, Ketua Klaster II JKK SOSEK MALINDO Negeri Sarawak, Datu Ir. Ts. Awang Mohammad Fadillah Bin Awang Redzuan, mengungkapkan bahwa Sarawak tengah mempersiapkan pembukaan Sarawak Trade and Tourism Office di Pontianak yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama tahun 2027.

“Kami sedang dalam proses menyiapkan kantor dan sumber daya manusia. Kehadiran Sarawak Trade and Tourism Office bertujuan meningkatkan hubungan perdagangan, investasi, dan pariwisata antara Sarawak dan Pontianak sehingga kerja sama yang sudah terjalin dapat semakin berkembang,” jelasnya.

Awang juga memastikan sejumlah persoalan lintas batas, termasuk mekanisme penanganan warga yang sakit maupun meninggal dunia di kawasan perbatasan, telah berhasil diselesaikan melalui koordinasi kedua pihak.

“Persoalan penghantaran pasien dan warga yang meninggal dunia telah kita selesaikan bersama. Apabila nanti muncul persoalan baru, kita akan kembali duduk bersama dengan Pemerintah Kalimantan Barat agar masalah tersebut tidak terulang lagi,” katanya.

Melalui Sidang ke-39 KK/JKK SOSEK MALINDO Tahun 2026, Kalimantan Barat dan Negeri Sarawak berharap berbagai kesepakatan yang dihasilkan dapat memperkuat hubungan bilateral kedua wilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, meningkatkan pelayanan masyarakat lintas batas, memperlancar perdagangan dan pariwisata, serta mempererat persaudaraan masyarakat Indonesia dan Malaysia di kawasan perbatasan. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play
Play