![]() |
| Dandim 1203/Ketapang Pimpin Langsung Pemadaman Karhutla di Sungai Pelang. SUARASINTANG/SK |
Pemadaman melibatkan tim gabungan dari TNI, Polsek Matan Hilir Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, serta masyarakat peduli api.
Sinergi lintas sektor tersebut dilakukan untuk melokalisir titik api sekaligus mencegah kobaran menjalar lebih luas, khususnya menuju permukiman warga dan fasilitas umum.
Dandim 1203/Ketapang Letkol Inf Zulkarnaen Galib menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan respons cepat dan keterlibatan seluruh unsur. Menurutnya, upaya pemadaman tidak dapat dilakukan secara parsial mengingat kondisi lahan yang terbakar berpotensi mempercepat penyebaran api.
“Sinergitas lintas sektor ini sangat penting. Lahan yang terbakar terus kami lokalisir agar titik api tidak meluas, terutama menuju permukiman warga maupun fasilitas umum,” tegas Letkol Inf Zulkarnaen Galib di lokasi pemadaman.
Ia juga mengajak masyarakat turut berperan aktif mencegah terjadinya kebakaran dengan tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan cara membakar.
“Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk saling bahu-membahu dan tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.
Proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi lahan gambut yang relatif kering, ditambah tiupan angin yang cukup kencang.
Kondisi tersebut membuat api berpotensi cepat menjalar dan menyulitkan petugas dalam mengendalikan kobaran. Karena itu, tim gabungan menerapkan sejumlah langkah untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Selain melakukan pemadaman di permukaan, petugas juga melaksanakan penyiraman secara mendalam atau cooling down pada area yang telah terbakar.
Pemblokiran jalur api turut dilakukan untuk menghambat pergerakan kobaran menuju bagian lahan lainnya.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan berpotensi menyimpan bara di dalam tanah.
Dandim mengingatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat dan pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat.
Karhutla dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan, penurunan kualitas udara, gangguan kesehatan hingga terganggunya aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat perlu terus ditingkatkan, terutama terhadap aktivitas yang berpotensi memicu munculnya titik api.
Dengan kolaborasi TNI-Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, masyarakat peduli api dan seluruh elemen terkait, penanganan karhutla di Desa Sungai Pelang diharapkan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah preventif untuk memastikan kobaran api tidak meluas dan mengancam permukiman maupun fasilitas publik di wilayah Kabupaten Ketapang. [SK]
