Kunjungan Kepala Staf Kepresidenan ke Kalimantan Barat tersebut dalam rangka menghadiri agenda pelepasan kapal ekspor komoditas Alumina Hydroxide dan Alumina Oxide dari Pelabuhan Dwikora Pontianak, Jalan Pak Kasih Nomor 11.
Pelepasan ekspor tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kebijakan hilirisasi industri mineral nasional, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit yang selama ini menjadi salah satu sumber daya alam strategis Kalimantan Barat.
Dalam agenda tersebut, Dudung Abdurachman dijadwalkan melepas secara simbolis kapal yang mengangkut produk hasil hilirisasi bauksit menuju pasar ekspor.
Produk alumina memiliki posisi strategis dalam rantai industri mineral karena pengolahannya menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah terhadap sumber daya alam sebelum dipasarkan ke pasar internasional.
Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kepala Staf Kepresidenan beserta rombongan ke Kalimantan Barat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, kami mengucapkan selamat datang kepada Bapak Kepala Staf Kepresidenan beserta rombongan di Bumi Khatulistiwa. Pelepasan ekspor alumina ini menjadi bukti nyata bahwa Kalimantan Barat mampu berkontribusi dalam rantai pasok industri strategis nasional,” ujar Krisantus.
Menurut Krisantus, aktivitas hilirisasi dan ekspor produk alumina tidak hanya berdampak terhadap sektor industri dan perdagangan, tetapi juga berpotensi membuka peluang investasi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong peningkatan perekonomian daerah.
Ia berharap kehadiran Kepala Staf Kepresidenan di Kalimantan Barat semakin memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan industri hilirisasi serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam daerah.
“Kami berharap kehadiran Bapak Kepala Staf Kepresidenan dapat semakin memperkuat sinergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam mendorong hilirisasi serta peningkatan nilai tambah sumber daya alam di Kalimantan Barat,” katanya.
Krisantus menegaskan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif sekaligus mempercepat pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
Menurutnya, potensi sumber daya alam Kalbar harus dikelola dengan pendekatan hilirisasi sehingga tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Pengolahan di dalam negeri dinilai penting untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar internasional.
“Hilirasasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, kita berharap mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat secara berkelanjutan,” tegas Krisantus.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting untuk memastikan pengembangan industri hilirisasi berjalan seiring dengan peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi daerah.
Ekspor alumina dari Kalimantan Barat diharapkan menjadi salah satu momentum strategis untuk semakin memperkuat posisi daerah sebagai bagian penting dari rantai industri mineral nasional.
Di sisi lain, pengembangan industri hilirisasi juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus memperluas kontribusi Kalimantan Barat dalam rantai pasok industri global.
Dengan pengelolaan sumber daya alam yang semakin terintegrasi dari hulu hingga hilir, Kalimantan Barat berpeluang tidak hanya menjadi daerah penghasil bahan baku, tetapi juga berkembang sebagai salah satu pusat industri pengolahan mineral yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat. [SK]
.jpeg)