![]() |
| Kegiatan Journalist Camp 2026 di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. SUARASINTANG/SK |
KJC 2026 menjadi wadah kolaborasi antara Yayasan Kolase, Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures, dan Pemerintah Desa Medan Mas dalam upaya memperkuat kesadaran publik serta membangun narasi pelestarian ekosistem mangrove dari tingkat akar rumput.
Kedatangan para peserta di Desa Medan Mas disambut hangat oleh masyarakat setempat melalui ritual adat beras kuning, sebuah tradisi yang melambangkan penghormatan kepada tamu. Sambutan tersebut memberikan kesan mendalam bagi para peserta yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Barat.
Ketua Yayasan Kolase, Andi Fachrizal, mengaku terkesan dengan sambutan masyarakat yang tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
“Sangat terkesan kami datang langsung disambut dengan beras kuning. Kami sangat menghargai nilai-nilai lokal yang tetap tumbuh di Desa Medan Mas dan bagi kami ini adalah sebuah kejutan,” ujarnya.
Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berasal dari berbagai media, di antaranya Pontianak Post, Suara Kalbar, Kompas TV, LKBN Antara, RRI, Warta Pontianak, Inside Pontianak, Tribun Pontianak, dan Iniborneo. Selain itu, sejumlah kreator konten dari Pontianak Infomedia, Pontianak Disway, dan Melawi Spezial turut ambil bagian.
Kepala Desa Medan Mas, Wira, menegaskan bahwa upaya menjaga kawasan mangrove dan mengembangkan potensi desa membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Menurutnya, peran media sangat penting dalam mengangkat potensi desa sekaligus menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan pesisir.
“Pemerintahan desa tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk teman-teman jurnalis yang dapat mengangkat potensi Desa Medan Mas sekaligus menyebarluaskan pentingnya menjaga kawasan mangrove yang menjadi aset berharga bagi masyarakat pesisir,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta akan mengikuti berbagai agenda yang dirancang untuk memperdalam pemahaman tentang ekosistem mangrove dan kehidupan masyarakat pesisir. Pada hari pertama, peserta melakukan field walk menyusuri kawasan mangrove, mengidentifikasi berbagai jenis vegetasi, serta membuat transek untuk bahan diskusi yang kemudian dibahas di Learning Center Desa Medan Mas.
Memasuki hari kedua, peserta akan mengikuti agenda Kuliah Pesisir yang menghadirkan tokoh lokal atau local champion, dialog akar rumput mengenai tantangan ekonomi masyarakat pesisir, hingga praktik jurnalisme warga (citizen journalism) bersama masyarakat setempat.
Sementara itu, puncak kegiatan pada Minggu (26/7/2026) akan dirangkai dalam Selebrasi Hari Mangrove Sedunia. Berbagai kegiatan telah disiapkan, mulai dari pameran produk olahan mangrove karya masyarakat, presentasi karya foto (photovoice), hingga kampanye pelestarian mangrove melalui media sosial.
Melalui KJC 2026, para jurnalis dan kreator konten diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan, tetapi juga mampu menghasilkan karya-karya yang memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya mangrove sebagai benteng alami pesisir. Selain menjaga keanekaragaman hayati, ekosistem mangrove juga berperan penting dalam melindungi wilayah pesisir dari abrasi, menyerap karbon, dan mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, lembaga lingkungan, dan insan media dapat menjadi kekuatan besar dalam menjaga keberlanjutan kawasan mangrove demi masa depan lingkungan pesisir Indonesia. [SK]
