![]() |
| Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat meninjau tumpukan sampah di TPA Batulayang Pontianak Utara. SUARASINTANG/SK |
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Usmulyono, mengatakan peningkatan volume sampah yang terjadi saat musim buah memaksa pihaknya melakukan berbagai langkah antisipasi agar tidak terjadi penumpukan sampah di sejumlah titik.
“Tahun ini luar biasa. Semua buah turun pada bulan-bulan ini, sehingga kami mendapat limpahan pekerjaan. Paling tidak sekarang ada peningkatan sekitar 20 persen,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Usmulyono, lonjakan sampah tidak hanya menambah beban pengangkutan, tetapi juga menuntut penanganan yang lebih cepat dan intensif. DLH bahkan harus menambah jumlah ritasi pengangkutan, mengoperasikan armada tambahan, hingga memberlakukan lembur bagi petugas lapangan untuk memastikan sampah tetap terangkut tepat waktu.
Pada beberapa wilayah, volume sampah yang menumpuk sudah tidak dapat ditangani hanya dengan tenaga manual sehingga diperlukan bantuan alat berat untuk mempercepat proses penanganan.
“Kami terpaksa menambah armada angkutan, jumlah ritasi, dan petugas kami lemburkan. Kadang-kadang di satu daerah, tenaga manusia tidak cukup lagi, sehingga kami sudah menggunakan alat berat,” katanya.
Persoalan sampah hingga kini masih menjadi salah satu tantangan besar bagi Kota Pontianak. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, timbulan sampah di Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, tingkat pengurangan sampah baru mencapai 18,87 persen. Artinya, sekitar 377,83 ton sampah setiap hari masih harus diangkut dan diproses di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Untuk mengurangi beban tersebut, Pemerintah Kota Pontianak terus mendorong optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang telah tersedia di setiap kecamatan. Melalui fasilitas ini, sampah tidak langsung dibuang ke TPA, melainkan terlebih dahulu dipilah dan diolah sehingga hanya menyisakan residu untuk dibuang.
“Wujudnya TPS 3R. Jadi sampah yang masuk kita kurangi, residunya saja yang kita buang,” jelas Usmulyono.
Ia menilai keberadaan TPS 3R menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA. Jika pengelolaannya berjalan optimal, beban armada pengangkut, petugas kebersihan, serta kapasitas TPA dapat berkurang secara signifikan.
Namun demikian, Usmulyono menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Sesuai ketentuan yang berlaku, tanggung jawab pengelolaan sampah juga berada pada pihak yang menghasilkan sampah tersebut.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan pemilahan dan pengolahan sampah dari rumah tangga. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah maupun kelompok pengelola sampah yang ada di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya menjadi kunci keberhasilan pengurangan timbulan sampah secara berkelanjutan.
“Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah dan di tingkat wilayah. Kalau residunya saja yang dibuang, beban pengangkutan dan TPA akan jauh berkurang,” pungkasnya.
DLH Kota Pontianak berharap kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah terus meningkat sehingga persoalan sampah dapat ditangani secara lebih efektif. Selain menjaga kebersihan lingkungan, langkah tersebut juga mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Kota Pontianak. [SK]
.jpeg)