![]() |
| Rakor Tanggap Darurat Kabut Asap di Sanggau. SUARASINTANG/SK |
Keputusan itu diambil dalam rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Bupati Sanggau sekaligus Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap, Susana Herpena, di Ruang VIP Sabang Merah Lantai 2 Kantor Bupati Sanggau, Senin (7/9/2026).
Rapat tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), instansi vertikal serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Evaluasi kondisi terkini menjadi dasar pemerintah daerah untuk melanjutkan status tanggap darurat.
Susana Herpena mengatakan, keputusan memperpanjang masa tanggap darurat diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan kondisi di lapangan.
“Tadi kita bersama jajaran Forkopimda dan OPD terkait sudah menyepakati status tanggap darurat diperpanjang 14 hari ke depan mulai 7-20 September 2026,” kata Susana.
Menurutnya, kondisi kabut asap hingga kini masih dirasakan dan sejumlah dampak yang ditimbulkan Karhutla belum sepenuhnya dapat diselesaikan.
“Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh bahwa persoalan bencana kabut asap masih terjadi hingga hari ini, termasuk juga dampak-dampaknya belum sepenuhnya tuntas,” tambahnya.
Selama masa perpanjangan tanggap darurat, Pemkab Sanggau akan memperkuat koordinasi dan kinerja Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap. Seluruh unsur diminta terlibat secara aktif agar penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Kedepan tim Satgas harus kita perkuat, tidak ada lagi ego sektoral dan pelibatan semua pihak termasuk pihak swasta juga perlu kita tingkatkan,” pinta Susana.
Ia menegaskan, penanganan Karhutla di tengah ancaman El Nino tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, relawan dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menghadapi kondisi tersebut.
Selain dampak kabut asap terhadap kesehatan, pemerintah daerah juga mencermati persoalan lain yang muncul akibat kemarau panjang. Keterbatasan air bersih mulai dirasakan masyarakat dan berpotensi mengganggu berbagai sektor yang bergantung pada ketersediaan air.
“Bencana kabut asap akibat Karhutla di tengah ancaman El Nino ini, juga berdampak terhadap krisis air bersih yang berdampak terhadap sektor pertanian, perkebunan hingga peternakan,” ujarnya.
Susana mengatakan, kondisi tersebut membutuhkan penanganan bersama karena dampaknya dapat meluas terhadap aktivitas dan perekonomian masyarakat.
“Berdasarkan informasi yang kami peroleh, kemarau panjang ini membuat krisis air bersih, sektor pertanian, perkebunan dan peternakan kita terganggu. Nah ini yang mau kita cari solusi bersama-sama,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Sanggau memastikan perpanjangan status tanggap darurat akan diikuti dengan penguatan berbagai dukungan di lapangan. Sarana dan prasarana penanganan bencana serta fasilitas pendukung, termasuk layanan kesehatan, akan terus dilengkapi sesuai kebutuhan.
“Intinya kami dari Pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan status tanggap darurat ini dengan melengkapi berbagai sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung lainnya termasuk fasilitas kesehatan,” tutup Susana.
Dengan diperpanjangnya status tanggap darurat hingga 20 September 2026, Pemkab Sanggau berharap penanganan kabut asap dan dampak Karhutla dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi. Pemerintah juga mendorong seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau dan bersama-sama mencegah munculnya titik api baru. [SK]
